"Sejak Papua diintegrasikan ke dlm NKRI, sejak itu pula ribuan anak2 kandung yg dilahirkan dari kandungan Mama2 Papua dan dibesarkan dari air susu Mama2 Papua terus dibunuh, diculik, disiksa, diintimidasi dan dipenjarakan dgn berbagai alasan. Hingga diberikannya UU NO.21 thn 2001 ttg Otonomi Khusus utk Papua, hal2 itu terus terjadi bahkan makin menjadi2, seakan2 dilegitimasih lg olh produk kolonial yg hanya menguntungkan elit2 politik lokal ini. Apa yg Otsus kasih utk tong pu Mama2 yg trus menahan hujan dan panas utk brjualan di pinggir jalan? apa yg otsus kasih utk Mama2 dan ank2nya yg mati byk krn tra sehat? Bgmn mungkin, bangsa Papua bs nnjd lbh baik klo Perempuan2 yg melahirkan, membesarkan dan mendidik anak2nya yg adlh generasih muda penerus bangsa sj, kondisi kesehatan, pendidikan dan ekonominya sgt buruk???" (Heni).
APAKAH DI DUNIA KEMILITERAN ITU UNTUK MELINDUNGI
RAKYAT ATAUKAH UNTUK MENYIKSA RAKYAT.?SELAMA INI KAMI ALIANSI MAHASISWA
PAPUA MELIHAT PERLAKUAN TNI/POLRI INDONESIA TERHADAP WARGA PAPUA DARI
SEJAK NKRI MERDEKA SAMPAI SAAT INI MILITER INDONESIA YANG DI TUGASKAN
DIPAPUA ITU BUKANYA IKUTI ATURAN KEMILITERAN TAPI MALA MENJ...
Pada pukul 3.00. WIB sore, hari Rabu tanggal 17 Maret 2010 Tempat di Kalome distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya Kronologi : Pdt. Kindeman Gire (dlm vid : yang ditelanjanggi) ditembak Mati Oleh TNI, Kindeman adalah seorang Hamba Tuhan Gembala Sidang Gereja GIDI ...Toragi distrik Tingginambut pada hari Rabu tanggal 17 Maret 2010. Satu minggu sebelumnya korban bersama jemaat mengirim uang lewat Air Gire ke Wamena untuk membelikan bensin 15 ltr untuk kepentingan bela kayu bangun gereja . Air mengirim berita kepada korban agar jaga-jaga di jalan karena dia akan mengirimkan besin tersebut lewat kendaraan yang akan lewat agar jangan sampai kelewatan maka diharapkan pesan kepada korban untuk jaga dijalan. Dalam waktu yang sama seorang Gembala juga Bernama Pitinius Kogoya. juga menitipkan sejumlah uang kepada seorang sopir mobil Ekstrada untuk dibelikan minyak goreng di Wamena kalau kembali ke Puncak Jaya agar tolong dibawakan dengan harapan tersebut sehingga ia juga jaga dijalan untuk menunggu titipannya yang akan dibawakan dari Wamena oleh seorang sopir berinisial Yakop orang Toraja yang sudah cukup kenal dengan P Kogoya. Dalam waktu yang sama Pdt. Kindeman Gire Korban lebih awal berada di jalan menungguh kiriman ketika itu Pasukan TNI Yonif 756 dari distrik Ilu lewat dan bertemu dengan Korban dan bertanya kepadanya pertanyaan-pertanyaan intimindasi bahwa kamu tau Gorobak atau pernah lihat gorobak..?( tidak tahu apa maksudnya arti dari gorobak itu) lalu korban menjawab nya saya Tau ( dengan bahasa Indo yg kaku). Lalu kamu tinggal dimana jawab korban saya tinggal di kalome. Selanjutnya Tentara membuka Magasen lalu mengeluarkan peluru dan tunjuk dan bertanya kepada korban apakah kamu tau ini...? apa kamu tau tempat penyimpanan senjata? apakah kamu ada simpan dirumah ...? korban senyum campur ketakutan karena ditodong senjata. Ketika pertanyaan ini terus bertubi-tubi maka muncullah secara tiba-tiba yang menjadi saksi dalam pembunuhan Pdt. Kindeman Gire ini muncul seorang hamba Tuhan juga Pitinius Kogoya, tadi untuk menunggu titipan ternyata dia juga dapat tangkap oleh kelompok Tentara tersebut bertanya kepadanya bahwa .. He kamu cari apa ..? Pitinius Kogoya menjawab ah saya ada titip uang sama sopir waktu berangkat kewamena untuk belikan minyak goreng jadi saya datang cek mobil yang masuk dari wamena . pertanyaan berikut adalah apakah kamu tahu Peluru..? apakah kamu tahu senjata..?. dimana tempat persembunyian OPM..? di menujukan tempat di sebelah bukit dan kami biasa mendengar mereka ada disana . Pada saat itu sudah pukul 3.30 WIB korban dan saksi dipisahkan jarak antara 2 sampai 3 meter lalau menyiksa mereka berdua dalam dua kelompok berbeda sampai jam 5 sore .penyiksaan yang mereka alami adalah luar biasa sampai muka bengkak dan menghitam. Pada saat pukul 5 sore itulah saksi Pitinius Kogoya didorong oleh anggota Tentara lain berdiri bagian atas posisi ketinggian dan langsung lompat diposisi rendah bagian bawah badan jalan lompat menginjak satu anggota yang berdiri diposisi kemiringan merayap masuk dalam semak-semak dan melarikan diri sambil . Ketika itulah Korban atas nama Pdt. Kindeman Gire ditembak dengan Senjata 2 kali tembakan . sejak tanggal ditembak itulah sampai laporan ini diturunkan belum pernah ditemukan jasat korbannya. Kecurigaan besar masyarakat adalah kemungkinan TNI memultilasi ( memotong-motong ) tubuh korban dimasukan dikarung lalu membuang di Sungai Tinggin atau di Sungai Yamo bahkan mungkin di sungai Guragi ataukah mungkin mereka kuburkan .
Kronologi Penembakan di Puncak Jaya.
Kelompok kriminal bersenjata di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, menyergap mobil sipil yang terletak di 2 kilometer dari pos TNI, Rabu (21/7/2010) sore.Berikut kronologi kasus penembakan dan pembakaran mobil oleh kelompok kriminal bersenjata di Puncak Jaya yang diterima Kompas, Kamis (22/7/2010) pagi.
Pada hari Rabu, terjadi penghadangan, penembakan, dan pembakaran konvoi empat mobil Mitsubishi Strada dari Wamena ke Mulia yang menyebabkan dua orang luka parah akibat tertembus proyektil peluru.
Pada pukul 13.00, keempat mobil yang membawa solar dan bahan makanan dari Distrik Illu. Namun setelah sampai Kampung Pagargom, tepatnya dekat SD Pagargom, kurang lebih 2 kilometer dari Pos TNI Kalome (45 km dari Mulia) tiba-tiba ditembaki dari arah atas gunung.
Para penembak melakukan dawi-dawi atau tarian lokal yang diduga kelompok pimpinan Goliath Tabuni. Aksi ini menyebabkan sopir Lanko Nafi terkena serpihan proyektil di lengan kiri.
Pukul 13.45, Letda (Inf) Deddi dari Pos TNI Illu dan delapan anggota menuju lokasi kejadian. Mereka tiba pukul 15.30 dan mendapati 3 mobil sudah terbakar dan barang muatan kosong yang kemungkinan telah dijarah.
Tujuh orang (sopir dan kernet mobil) yang belum diketahui identitasnya dengan membawa satu mobil berhasil lolos dan kembali ke Illu. Sedangkan sopir, Timotius Enumbi dan penumpang Neminces Wonda lari mengamankan diri dan tiba di Pos Polisi Tingginambut pukul 18.30. Keduanya luka parah karena terkena serpihan proyektil pada kaki kanan dan kiri.
SUP Temui Komnas HAM Terkait Operasi Militer di Puncak Jaya.
Beberapa perwakilan dari Solidaritas Untuk Papua (SUP) yang selama ini mempermasalahkan operasi Militer yang terjadi di Distrik Tiginanmbut, Kabupaten Puncak Jaya Papua, sejak tanggal 28 Juni lalu, kemarin (09/7) mendatangi kantor Komnas HAM Pusat di Jakarta untuk menyampaikan laporan mereka.Perwakilan SUP di terima oleh M. Ridha Saleh, Komisioner Subkomisioner Mediasi pada komnas HAM di Jakarta.
Dalam laporannya, SUP mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di Distrik Tiginanmbut oleh aparat Militer, oleh sebab Komnas HAM diminta mengambil tindakan terkati laporan ini.
"Sejak berlakuknya operasi militer tanggal 28 Juni lalu situasi Puncak Jaya sampai saat ini masih memanas, kami meminta perhatian Komnas HAM di Jakarta," pungkas mereka.
Mereka juga mengatakan, bahwa status daerah operasi militer (DOM) harus dicabut dari Puncak Jaya karena ini sudah tentu mengorbankan banyak rakyat Papua, khususnya warga tak berdosa yang ada di Puncak Jaya.
"Kami ingin komnas HAM mengirim team ke Puncak Jaya untuk menyelidiki secara jelas peristiwa operasi militer ini dan mendesak beberapa pihak yang berwenang untuk menghentikan operasi militer di Puncak Jaya," kata mereka.
Kelompok Bersenjata Beraksi di Puncak Jaya.
Kelompok sipil bersenjata di Kabupaten Puncak Jaya, Papua, menghadang dan membakar tiga unit mobil angkutan jenis strada yang sedang melintas dalam perjalanan dari Wamena ibu kota Kabupaten Jayawijaya menuju Puncak Jaya, Rabu (21/7) petang.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Kombes Pol Wachyono yang dihubungi ANTARA News Jayapura, Kamis, mengatakan, kejadian itu bermula saat empat mobil jenis strada yang memuat bahan bakar minyak (BBM) dan bahan makanan, jalan berkonvoi dari Wamena menuju Puncak Jaya.
Sesampainya di wilayah kampung Pagargom, tepatnya di dekat sekolah dasar yang berjarak sekitar dua kilo meter dari pos TNI Kalome atau berjarak 45 Km dari Mulia, Puncak Jaya, rombongan u ditembak dari atas perbukitan dengan rentetan peluru.
"Pelakunya diduga kelompok bersenjata pimpinan Goliath Tabuni," kata Kombes Pol Wachyono, seraya menambahkan usai menembak kelompok itu juga seperti menari-nari sambil menuruni bukit.
Akibat serangan itu, para supir dan penumpang, lari menyelamatkan diri. Salah satunya dari mereka, Lanko Nafi, terkena serpihan peluru di lengan kiri.
Tim aparat TNI dibawah pimpinan Letda Inf Deddy, dan delapan orang anggotanya, dari pos Illu langsung menuju tempat kejadian, dan mendapati tiga unit mobil sudah dibakar dan isinya juga habis dijarah.
Kombes Pol Wachyono menambahkan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, karena tiga orang supir dan kernet yang belum diketahui identitasnya berhasil melarikan diri dengan menggunakan satu mobil strada lainnya.
"Sementara seorang supir lainnya yakni Timotius Enumbi dan seorang penumpang Neminces Wonda, berhasil melarikan diri sampai di pos polisi Tingginambut pada saat malam harinya," jelas Kombes Pol Wachyono.
Dia juga katakan, hingga saat ini pelaku penyerangan masih dalam pengejaran aparat gabungan TNI/Polri. (KR-MBK/A011)
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Kombes Pol Wachyono yang dihubungi ANTARA News Jayapura, Kamis, mengatakan, kejadian itu bermula saat empat mobil jenis strada yang memuat bahan bakar minyak (BBM) dan bahan makanan, jalan berkonvoi dari Wamena menuju Puncak Jaya.
Sesampainya di wilayah kampung Pagargom, tepatnya di dekat sekolah dasar yang berjarak sekitar dua kilo meter dari pos TNI Kalome atau berjarak 45 Km dari Mulia, Puncak Jaya, rombongan u ditembak dari atas perbukitan dengan rentetan peluru.
"Pelakunya diduga kelompok bersenjata pimpinan Goliath Tabuni," kata Kombes Pol Wachyono, seraya menambahkan usai menembak kelompok itu juga seperti menari-nari sambil menuruni bukit.
Akibat serangan itu, para supir dan penumpang, lari menyelamatkan diri. Salah satunya dari mereka, Lanko Nafi, terkena serpihan peluru di lengan kiri.
Tim aparat TNI dibawah pimpinan Letda Inf Deddy, dan delapan orang anggotanya, dari pos Illu langsung menuju tempat kejadian, dan mendapati tiga unit mobil sudah dibakar dan isinya juga habis dijarah.
Kombes Pol Wachyono menambahkan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, karena tiga orang supir dan kernet yang belum diketahui identitasnya berhasil melarikan diri dengan menggunakan satu mobil strada lainnya.
"Sementara seorang supir lainnya yakni Timotius Enumbi dan seorang penumpang Neminces Wonda, berhasil melarikan diri sampai di pos polisi Tingginambut pada saat malam harinya," jelas Kombes Pol Wachyono.
Dia juga katakan, hingga saat ini pelaku penyerangan masih dalam pengejaran aparat gabungan TNI/Polri. (KR-MBK/A011)
3 komentar:
- Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang (Konsepsi Kemahasiswaan KM ITB) : 1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya 2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat Mahasiswa merupakan salah satu komunitas kampus yang tergabung dengan komponen masyarakat kampus lainnya, pegawai, dosen dan karyawan yang memiliki tugas dan perannya masing-masing. Walaupun begitu, semua elemen kampus ini menyatu dalam civitas akademika perguruan tinggi, dan mengemban misi Tridharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kemudian mahasiswa sebagai insane akademis dituntut untuk berperan dalam dua fungsi. Pertama, mahasiswa dituntut untuk terus berupaya mengembangkan diri menjadi lapisan masyarakat masa depan yang berkualitas sebagai calon sarjana. Kedua, dengan berlandaskan nilai ilmiah dan moralitas, mahasiswa dituntut untuk aktif bergerak ikut menata kehidupan bangsanya. Landasan Tridharma dan tugas perguruan tinggi, seharusnya sudah cukup sebagai alasan kita sebagai mahasiswa untuk bergerak dan berkontribusi untuk masyarakat. Sudah seharusnya ITB sebagai institusi terbaik bangsa turut memperhatikan keadaan sekeliling dan peduli dengan kondisi mereka. Miris rasanya jika mahasiswa mengadakan event yang menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk bersenang-senang sementara masih ada warga sekitar kampus ITB yang belum tahu apakah besok bisa makan. Gelap Nyawang sebagai komunitas yang paling dekat dengan mahasiswa ITB, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dan kepedulian kita.
- SEJARAH Gelap Nyawang merupakan salah satu daerah disekitar ITB yang terkenal sebagai tempat makan. Gelap Nyawang itu sendiri dulunya tidak lain hanyalah sebuah nama jalan. Bermula dari keinginan rektor Kusmayanto Kadiman untuk membentuk ITB sebagai kawasan percontohan, dengan ITB sebagai wisata iptek, Salman sebagai wisata spiritual, dan Gelap Nyawang sebagai wisata kuliner. Awalnya pedangang kaki lima banyak sekali berjualan di jalan Ganesha, sehingga menjadikan jalan Ganesha terlihat semrawut. Dikarenakan kebutuhan akan tempat parkir juga, maka kementrian Kimpraswil menyusun acara besar untuk memperindah jalan Ganesha dan membuat tempat parkir. Rencana besar itu adalah jalan Ganesha –jalan diantara Ciung Wanara dan Taman Sari- akan jadi jalan dalam kampus ITB, dan akan ditutup di kedua sisi tersebut. Semua mobil dan kendaraan bermotor akan masuk kampus ITB dari jalan Skanda (dari jalan Gelap Nyawang). Kemudian PKL di jalan Ganesha akan dipindahkan ke jalan Gelap Nyawang dna dibuatkan kios-kios baru. Dan demi terlaksanannya ITB dan sekitarnya sebagai kawasan percontohan, maka pedagang jalan Ganesha yang dipindahkan ke Gelap Nyawang, akan diberi pembekalan-pembekalan. Kios-kios di Gelap Nyawang sendiri terbagi menjadi dua bagian, daerah timur dan daerah barat. Daerah timur terbentang mulai dari ujung jalan Gelap Nyawang yang berdekatan dengan Bumi Medika Ganesha sampai daerah di depan Bank Muamalat, dan sisanya adalah daerah barat. PKL jalan Ganesha sendiri terdiri dari penduduk pribumi dan pendatang. Penduduk pribumi diberi kewenangan untuk memilih lebih dulu daerah mana yang akan mereka tempati untuk berjualan. Dengan pertimbangan letak yang strategis karena di persimpangan jalan Taman Sari, maka mereka memilih daerah Barat, sedangkan daerah Timur untuk pendatang.
- Maka berbondong-bondonglah seluruh PKL jalan Ganesha memindahkan dagangannya ke Gelap Nyawang. Mereka pun sudah disediakan kios dengan model food court. Namun, setelah pindah ke Gelap Nyawang (kira-kira tahun 2002), penduduk pribumi yang memilih daerah Barat mulai merasa salah mengambil keputusan. Para mahasiswa yang ingin makan, yang keluar langsung dari Salman, justru langsung menyerbu warung daerah Timur, karena lebih dekat. Para pedagang Barat yang tidak ingin dagangannya rugi kembali berjualan di jalan Ganesha sementara kios mereka disewakan (beberapa). Semakin lama, mulai berdatangan pedagang baru ke jalan Ganesha, dan jalan Ganesha masih belum bersih dengan pedagang kaki lima sampai saat ini. Masalah mulai timbul kira-kira lima tahun lalu, tahun 2003, ketika ada pasar yang dipindahkan di sekitar situ. Pasar itu adalah Pasar Balubur. Rencananya pasar itu hanyalah sementara, namun sampai saat ini pasar tersebut belum dipindahkan kembali. Pasar Balubur memiliki 238 ruang dagang dengan 178 pedagang aktif dan 5 pedagang tidak aktif (Dinas Pasar Kota Bandung tahun 2003). Masalahnya bukan pada pasar yang tiba-tiba hadir dan turut menjadi komunitas disana, tetapi sampah yang dihasilkan oleh pasar tersebut. Pasar Balubur –juga pasar-pasar lainnya- memiliki sampah yang menggunung setiap hari, dan sampah itu dibuang persis dibelakang kios Gelap Nyawang sebelah Barat. Berbeda dengan sampah pasar Dago yang diangkut setiap pagi, sampah pasar Balubur ini dibiarkan dulu baru kemudian setelah beberapa hari datang mobil sampah untuk mengangkut. Hal ini tentu saja membuat konsumen agak takut untuk makan di Gelalp Nyawang daerah Barat, karena bau sampah yang menyengat, apalagi sampah tersebut adalah sampah organic berhari-hari yang lalu. Tidak cukup masalah sampah Balubur, pedagang Barat juga terganggu dengan kuda yang suka mampir di kios kosong di daerah Barat. Hal ini terjadi karena ada pedangang Barat yang menyewakan kiosnya, sehingga dibiarkan kosong dan memberikan tempat untuk si kuda . Masalah beruntun yang terjadi pada pedagang Barat, membuat hubungan antara pedagang Barat dan Timur tidka terlalu baik. Ditambah lagi para pedangang Timur semakin memiliki banyak pelanggan sedangkan pelanggan Barat terus berkurang. Masalah ini masih berlanjut sampai sekarang.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar